
Sampai suatu hari gue denger berita-berita miring tentang gue dan Jessica. Katanya gue deketin dialah atau apalah itu. Gue sendiri nggak ngerti kenapa orang-orang berpikir begitu, padahal tidak pernah terlintas di kepala gue hal seperti itu. Gue cuma coba berteman aja. Mungkin karena memang karena background gue yang jelek, makanya orang-orang selalu melihat the bad side about me. Gue bisa mengerti akan hal itu. Well, akhirnya gue mulai menjauhi dia. Terutama kalau sudah mulai curhat. Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama, dia pun menjauh. Gue ketemu dengan dia kalau sedang di gereja aja. No more, no less. Tapi gue tidak pernah lupa selalu kasih selamat kalau dia ultah, minimal lewat sms.
Ternyata tidak terasa ya 3 tahun lewat begitu aja. Kadang kita merasa waktu berjalan lambat, kadang kita merasa waktu berlalu begitu cepat. And abrakadabra ... gue mulai sering melihat Jessica aktif di berbagai kegiatan pelayanan. Mulai dari menjadi dancer di gereja, jadi pemimpin persekutuan dan memiliki beberapa anak PA. Kegiatan terakhirnya, dia jadi salah satu anggota sie konsumsi, drama dan dancer untuk Youth Camp 1000 pelajar. Kebetulan dia dibawah supervisi gue. Dan harus gue akui dia memang suka ijin tidak datang kalau ada rapat. Tapi dia tidak pernah lupa untuk telpon gue menanyakan hasil rapat dan apa yang harus dia lakukan. Setelah acara Youth Camp-nya sudah lewat bulan Agustus kemaren semua berjalan seperti biasa lagi. Kembali ke pelayanan masing-masing. Gue kemudian mendengar berita kalau dia meninggal dari Dolly. Oh ya, dia suka memanggil gue Cina Idol. Entah kenapa dia panggil gue kayak itu. Aneh juga denger kata itu awal-awalnya. Dan ke depannya mungkin akan agak aneh lagi, karena gue tidak akan pernah denger kata-kata itu lagi.
Setelah Dolly kasih tau di mana Jessica saat itu, gue langsung cepat-cepat ke sana dengan motor gue. Pas gue sampai, sudah banyak orang yang menangis. Suasananya sangat haru. Apalagi kalau mendengar ayahnya yang sesekali berteriak tidak merelakan kepergian Jessica yang terlalu cepat, rasanya hati pengen ikutan menjerit. Gue dengan tenang langsung menuju tempat dia terbaring. Dari jauh gue bisa liat kepalanya diperban putih dan dari leher ke bawah juga sudah dibungkus kain putih. Di sisinya ada ibunya yang tidak henti-hentinya menangis dan memegang tangan Jessica. Gue mendekat dan langsung melihat ke muka Jessica. Gue pandang dia selama 3-4 menit, gue pegang kepalanya yang sudah mulai mengeras dan kemudian keluar dari ruangan itu dan bertanya ke teman-teman gue yang udah datang duluan apa sebab dia meninggal.
Apa yang gue rasa? Apa ya ... gue saat itu hati gue menangis keras, tidak rela dia pergi, ada sedikit sesak di dada gue, ingin mengeluarkan air mata, bingung harus melakukan apa, berharap hari itu cepat berlalu dan gue merasa diri gue sampah tidak berguna. Hari yang sangat aneh buat gue ... Goodnight Jess. Sweet Dream! When you wake up, everything will be alright.
Itu aja sepertinya yang bisa gue ceritakan tentang Jessica dari kacamata gue.
Yang bisa gue katakan adalah di luar sana ada begitu banyak Jessica-Jessica lain yang kata orang suka ngambek, susah diatur, menyebalkan, moody dan tidak bisa diandalkan. Sebenarnya mereka hanya perlu telinga orang lain yang mau mendengarkan dan orang yang bersabar. Maukah kita berikan sebuah telinga untuk mendengar dan bersabar untuk mereka?