Wednesday, May 11, 2005

Kangen

Aku tergeletak tidak berdaya
Semua yang kulakukan terlihat salah
Saat ku makan, mandi, bahkan tidur tadi malam
Entah kenapa hal ini menyerang tiba-tiba

Ku coba berteriak, namun hanya ada gema
Ku berlari pun tidak banyak membantu
Kuputuskan berpikir apa yang salah pada diriku
Tapi, tetap saja aku hanya bertemu sepi

Tidak tahu lagi harus pergi kemana
Aku harus bergerak atau harus berdiam
Pilihan ini membuat aku bingung setengah mati
Fiuh ... aku tergeletak, benar-benar tidak berdaya.

Akhirnya, kuberanikan diri mencari kamu
Kamu yang baru aku temui semalam
Ajaib, rasa itu menghilang dalam sekejap
Ternyata, aku kangen kamu ...

Friday, February 18, 2005

Susahnya Belajar Sabar!

Sekitar 3 hari terakhir gue flu berat. Gak tau apa penyebabnya. Mungkin sih gara-gara debu di kamar gue. Maklum tuh kamar jarang gue urusin, soalnya cuma buat tidur aja dari malem sampe pagi. That's all. Kalo liburan, gue lebih pilih tidur di kamar nyokap gue di lantai bawah, lebih adem. Pernah gue itung-itung, ternyata dalam setahun belum tentu gue bersihin tuh kamar. He he he ... Nggak heran juga 'kan kalo akhirnya gue sering flu. Nah, untungnya gue punya mbak yang selalu beresin kamar gue tiap kali berantakan. Thanks God! Tapi, karena dia udah punya umur, jadi beresinnya pun seadanya. But, it's okay. Dari pada nggak sama sekali. Right or right?

Back to the topic. Nah, gue punya kebiasaan rada jelek kalo flu berkepanjangan. Bawaannya nggak sabaran dan pengen marah. Gue nggak tau dengan orang lain, mungkin ada yang seperti itu juga. Contohnya, kalo lagi di jalan, kebetulan gue suka naik motor kalo kemana-mana, ada yang lelet banget bawa motornya, pasti deh gue kesel dan klaksonin terus tuh orang terus biar minggir. Kalo lagi nggak flu sih, gue nggak begitu-begitu amat, loh. Terus, contoh lagi, kalo misalnya pencet sms dan pas send messages, failed, apalagi udah nunggu lama. Wah, itu rasanya mau meledak. But, anyway, gue ngerasa kadang hal-hal seperti itu dateng ke gue buat melatih kesabaran gue. Maksudnya, kesabaran gue akan segala hal. Yah, bisa dibilang gue tipe cowok yang kalo lakuin apa-apa, maunya cepet. Tapi, bukan cepet yang asal-asalan, loh. Cepetnya penuh perhitungan. Mungkin itu dia, nggak segala sesuatu itu bisa dilakukan dengan cepat. Kadang ada hal yang need to spend more time.

Yeah, mungkin lewat flu, gue bisa belajar apa arti sabar. Sabar seperti kalo gue lagi nggak flu. Soalnya, bukan maksud menggurui nih, ada yang pernah bilang, segala sesuatu itu baru bisa dibilang tulus kalo kita melakukannya dalam keadaan yang justru tidak kita harapkan. Ngerti, nggak? Maksudnya begini, gimana mungkin kita bisa belajar sabar dalam keadaan yang baik dan semuanya berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Kalo begitu, tentu aja semua orang bisa sabar, bukan? Tapi, kita baru bisa benar-benar dibilang sabar kalau kita sanggup menunjukkan kesabaran kita di kondisi yang seharusnya kita tidak sabar.

Wednesday, February 16, 2005

Sudah Separuh Masa

Aku berjalan tanpa arah
Meraba dinding yang gelap dan tak bertepi
Tertatih, menyeret tubuh yang lunglai
Terluka, perih dan terasa sakit

Mencoba bertahan di tengah teriakan
Yang mendengung panjang di telinga
Tidak habis sekalipun terlelap
Atau pun terjaga di pagi hari

Haruskah aku berlari sepanjang jalan?
Tidakkah ada kesempatan untuk berdiam
Sekedar melihat indah dunia yang semestinya
Ku lelah, jenuh dan ingin menangis

Tidak! Aku tidak boleh berhenti
Separuh masa telah kutempuh
Harus kuselesaikan perjalanan mendaki ini
Pasti setitik cahaya menanti di ujung sana

Thursday, January 6, 2005

Sebagian Hidupku Yang Terindah

Akankah terus kamu ingat tiap penggalan yang kutulis?
Yang datang dari lubuk hati yang merah karena jatuh cinta
Ku merenung setiap pagi, siang dan malam
Hanya untuk menulis kata demi kata buat kamu mengerti

Kucoba cari kata yang tepat untuk ungkapan yang ada di dalam sini
Namun yang kutemukan hanyalah kegirangan luar biasa
Bukan karena pelukan kamu, bukan juga karena kecupan kamu
Tapi, karena diri kamu yang selalu ada di dalam hati aku

Mungkinkah jalan ini mampu kita lewati?
Aku berharap bukan sekedar kita lalui dan jalani
Bukan hanya masa sesaat dan lembaran hidup yang segera berlalu
Aku ingin masa ini dan yang akan datang jadi milik kita

Sudah sejauh ini kita berjalan dengan segala luka dan tawa
Tidakkah ada jalan yang lebih mudah untuk menggapainya?
Namun bila ini memang jalan satu-satunya yang harus ditempuh
Sekalipun terulang tiga kali, pasti akan sanggup diselesaikan juga

Kadang ingin rasanya aku pergi, berlari ke gunung
Atau, menyelam ke kedalaman samudera biru
Kadang kupikirkan untuk terbang menjauh dari semua ini
Namun bila aku berpaling, artinya aku meninggalkan sebagian hidupku yang terindah …
KAMU!

Kasih Itu Pribadi


KASIH ... Apa sih kasih itu? Lima huruf yang mudah disebut namun perlu pengalaman panjang untuk dapat mendefinisikannya. Banyak orang mendebat arti kata ini. Ada yang bilang kasih itu perasaan, ada yang bilang kasih itu perasaan cinta, bahkan ada yang bilang kasih itu omong kosong. Beberapa orang mencari sampai ke luar negeri, sebagian mencari dengan berdiam diri, namun hanya segelintir orang yang menemukan artinya.
Kalo mau dicari apa arti kata kasih, mungkin nasib kita nggak akan jauh dengan sebagian orang yang sampai detik ini mungkin masih mencari tahu apa artinya. Kasih itu bukan sesuatu yang harus dicari, karena memang nggak bisa dicari di mana pun. Kasih itu lebih seperti sebuah pribadi yang harus diusahakan kalo ingin mendapatkannya secara utuh. Nggak perlu berjalan terlalu jauh untuk menemukan kasih. Dia tersimpan rapih di dalam hati setiap manusia. Tuhan taruh itu dalam hati kita. Namun, seringkali manusia hidup nggak peduli dengan kasih. Mereka lebih senang hidup dengan berbagai macam emosinya. Yang beberapa emosi mereka sering di sebut sebagai kasih, padahal bukan.

Emang apa yang membedakan itu kasih atau bukan? Menjawab pertanyaan ini nggak semudah menanyakan pertanyaan itu sendiri. Yang jelas, kasih nggak bisa dimiliki dalam semalam. Tentu berbeda dengan marah, yang dalam sedetik bisa keluar begitu aja. Malah terkadang, keluar tanpa peduli kiri atau kanan. Bahkan mungkin marah keluar di saat kita sendiri tidak menginginkan. Atau, rasa takut, yang bisa menghantui kita dalam sekejab dan datang seperti pencuri di tengah malam. Kasih juga tidak seperti cinta, yang kadang cepat datang dan cepat juga pergi. Kasih itu harus dipelihara, layaknya seseorang memelihara anak. Kasih harus diasuh dari hari ke hari. Karena kasih nggak bisa datang dalam waktu sekejab saja. Saat seseorang mendapatkan kasih, dia harus belajar menggunakan kasih itu. Bawa kasih melewati berbagai kondisi dan situasi. Ajak kasih ke tempat tertinggi dalam hidup kita. Sampai akhirnya kasih itu menjadi dewasa dan nggak terpenjara dengan berbagai situasi kondisi dan emosi lain. Hal ini bukan semata-mata mematikan emosi lainnya. Tapi, bila kita sanggup menaruh kasih di atas segala sesuatu, kita akan melihat dunia lebih indah dan penuh warna.

Nah, terus gimana cara mendapatkan kasih? Pertanyaan ini akhirnya sampai juga. Lebih pendek dari pertanyaan sebelumnya, namun jawabannya lebih susah. Seperti kita tau, kasih itu sebenernya ada di dalam hati manusia. Setiap orang, baik atau jahat, cacat atau tidak, teroris atau tokoh terkemuka, kaya atau miskin, putih atau hitam, bodoh atau pintar, cerdas atau licik, semua memiliki kasih. Sebenernya kasih itu nggak perlu didapatkan. Karena dia akan keluar dengan sendiri, baik kita undang atau tidak, kita inginkan atau tidak. Kasih akan mengalir deras justru di saat segala sesuatu menjadi semakin buruk atau tak terkendali. Di saat segala sesuatu tidak seperti yang kita harapkan. Saat itulah biasanya ada bisikan kecil jauh di dalam hati kita, yang bila kita mau duduk diam dan beri sedikit waktu dan telinga kita untuk mendengar, akan ada pribadi yang terus mendengungkan tentang hal yang seharusnya kita lakukan. Dengarkanlah suara kecil itu dan ikuti. Jangan abaikan pribadi itu. Kalo kita abaikan, nasib kita nggak akan jauh seperti orang yang mencari kasih sampai ke luar negeri atau berniat ingin membeli kasih yang harganya tidak pernah ada itu.
Lucu memang mengatakan kasih itu seperti sebuah pribadi. Dan, rasanya sangat aneh bila kasih itu disebut sebagai pribadi yang hidup. Namun itulah kenyataannya. Itulah KASIH.

***Kasih yang sejati muncul dari relung hati
Yang tak pernah selalu meminta namun selalu membagi
Kasih yang sejati datang dari dasar jiwa
Yang tak pernah selalu menuntut namun selalu memberi***

Monday, January 3, 2005

Air Mata Untuk Kakak


Jangan menangis lagi kakakku
Dunia telah melihat betapa besar penderitaanmu
Bersabarlah, tunggu beberapa detik lagi
Adikmu di sini berusaha keras membantu dengan keringat dan air mata

Tahanlah kepedihanmu sebentar lagi saja
Jangan biarkan air mata membasahi pipimu terus
Mengucur deras tanpa henti
Tapi, kalau memang harus, biarlah itu menjadi yang terakhir

Ingatlah, dalam tangismu, ada tangisanku
Dalam jeritmu, ada jeritanku
Dalam harapmu, ada keinginanku
Dan, dalam setiap tarikan nafasmu, ada detak nyawaku

Dulu kita bersaudara, sampai detik ini pun kita tetap bersaudara
Saudara yang selalu berbagi dalam tawa dan air mata
'Tak akan ku langkahkan kakiku setapak pun sampai kamu berdiri lagi
Lihatlah kakak, matahari di timur sana telah menantimu tersenyum kembali

(Nanggroe Aceh Darussalam telah hancur dalam hitungan menit. Ratusan ribu jiwa melayang dalam sekejab mata. Hati manusia mana yang tidak ikut meratap dan menjerit bersamaan dengan perginya mereka. Kalau masih ada matahari dan bulan untuk hari esok, tentu ada masih ada harapan untuk kakakku, Aceh. Dia yang telah jatuh dan hancur akan bangkit kembali. Entah lusa, besok atau hari ini)

-dari: saya, yang menangis-