Wednesday, October 22, 2008

Life is not always about you and me ...

"What is my life about?" Nggak tau dengan orang lain, tapi pertanyaan ini sering menghantui hidup gue. As a normal human being, gue mencari tahu untuk apa sih gue ada di dunia ini. Gue punya kebiasaan yang sebenarnya ini adalah pelajaran dari bokap gue. Gue suka merenungkan kehidupan gue selama 1 hari setiap malam. Apa aja yang udah gue lewatin, yang gue lakukan, yang gue ucapkan, yang gue pikirkan, cara gue menjawab pertanyaan orang, cara gue bertanya ke orang lain. Yah pada intinya semua kejadian yang terjadi selama hari itu. Dan sebagai efek tambahannya, gue juga jadi suka berimajinasi sama hal-hal yang belum terjadi. Apa yang akan gue jawab kalau orang bertanya ini, apa yang akan gue lakukan kalau ada kejadian itu. Something like that.

(Misalnya: Pernah suatu hari gue ditanya orang, kalau suatu hari gue melamar seorang wanita, gue mau melakukan apa. Saat itu gue jawab, yah langsung lamar aja ke orang tuanya. Dan pas malam harinya gue merenungkan jawaban gue. Malam itu gue berpikir, mungkin untuk pertanyaan satu itu gue harusnya menjawab, gue pengen melamar wanita itu dengan mengajaknya naik ke atas gedung yang paling tinggi. Cuma ada gue dan wanita itu dan di sana gue sudah siapkan sebuah tulisan "Would you marry me?" di sebuah dinding dengan piloks warna merah). Itu contoh sederhananya. Hal ini membuat gue jadi suka merencanakan dan memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Memikirkan jawaban-jawaban yang belum pernah ditanyakan ke gue. And it works, gue jadi orang yang kata orang seringkali punya jawaban untuk segala sesuatu, punya jalan keluar untuk berbagai masalah. Tapi sebelnya, orang-orang jadi suka beranggapan negatif. Mereka bilang gue pintar ngeles-lah, pintar memutar balikan faktalah, selalu bisa jawablah dan bla bla bla yang lain. Padahal sebelum mereka bertanya, gue bahkan udah memikirkan jawaban pertanyaan itu. Gue hanya menyadari betapa hebatnya Tuhan menciptakan otak kita dan gue hanya berusaha memanfaatkannya sebisa gue.

Hal di ataslah yang mendominasi kepala gue untuk terus mengajukan pertanyaan "What is my life about?" Dan gue nggak menemukan jawabannya. Salah satu pertanyaan sulit yang gue ajukan untuk diri gue sendiri dan gue tidak mendapat jawabannya sampai beberapa tahun dari pertanyaan itu gue ajukan ke kepala gue.

Pernahkah mendengar sebuah cerita tentang David Livingston, yang rela mati untuk orang-orang di pedalaman Afrika, tentang Dr. Paul Brand yang mendedikasikan hidupnya untuk menjadi 'rumah' bagi orang-orang kusta di India atau mungkin tentang seorang nenek tua yang setiap malam berdoa di kolong rumahnya yang reot, kotor dan gelap hanya untuk pertobatan seorang preman yang sering memintainya uang? Gue heran entah apa yang ada di kepala mereka, ya ... mungkin lebih tepatnya, apa yang ada di hati mereka. Apa yang bisa membuat mereka merelakan begitu aja umur mereka, hidup mereka bahkan seluruh pikiran, tenaga, waktu, materi dan perasaan mereka hanya untuk orang-orang yang mereka nggak kenal. Bahkan untuk orang-orang yang memanfaatkan mereka. Orang normal macam apa yang melakukan hal itu?

Salah satu tangan David Livingston rusak dengan hebat akibat melawan beruang dan tanpa memasukan kata menyerah dalam otaknya, dia selalu tetap kembali ke Afrika dan pada akhirnya meninggal di sana, Dr. Paul Brand membuang seluruh impiannya menjadi dokter mahal di Amerika dengan pergi ke kota kecil di India dan hidup di sana dengan para penyandang penyakit kusta nyaris seumur hidupnya, Corrie Ten Boom seorang penginjil wanita yang rela meringkuk dari satu penjara ke penjara lainnya hanya untuk memberitakan kebenaran bagi orang-orang terhilang. Dipukul, dihina, diludahi, nyaris dibunuh, kelaparan, pusing, haus, penuh masalah, hampir kehilangan akal, berkeringat, menangis, merasa sendiri, putus asa, menjadi bagian besar dalam kehidupan mereka. Tapi dengan tegar mereka tetap berdiri di sana dan rela mati untuk sesuatu yang mereka yakini dan mereka perjuangkan. Mereka tidak memilih hidup terkenal, nyaman, hidup tenang, masa tua yang aman atau kehidupan yang serba cukup, tapi mereka memilih berdiri membela orang-orang mereka kasihi, bahkan orang-orang yang tidak mereka kenal.

Kisah tentang orang-orang di atas benar-benar menghancurkan cara pikir gue selama ini tentang kehidupan. Benar-benar membuat berantakan konsep tentang suatu kehidupan di kepala gue. Sampai akhirnya suatu hari Tuhan dengan lembut membisikan 'Hidup ini tidak selalu tentang kita. Hidup ini juga untuk mereka."

In my real life, I'm not perfect kind of person. Ada begitu banyak kegagalan yang gue bikin, begitu banyak kesalahan gue yang tidak tertebus, begitu hebat kekurangan dalam hidup gue, begitu besar dampak perbuatan gue yang merugikan banyak orang. Singkat kata, begitu besar lubang dalam hidup gue. Amazingly, God with His mighty grace erased it all. Dengan tanganNya yang kuat dia angkat hidup gue lagi dan memberi gue kekuatan menghadapi segala konsekuensi perbuatan gue. Dia mau berjalan bersama gue. Menambal lubang besar dalam hidup gue sedikit dengan sedikit. Membantu gue mengangkat batu untuk menambal setiap luka hati gue. Ketika gue kembali terjatuh, gue kembali melubangi kertas kehidupan gue, dengan lembut dia bilang "Come on, get up and walk with Me. It's okay. You can do it." Tuhan yang adalah Tuhan dengan sabarnya menjaga kehidupan gue, dengan sabarnya terus memberi gue kesempatan. Dia nggak pernah menyerah untuk hidup gue. Untuk apa? Supaya gue melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Dan itu tidaklah mudah.

Saat gue berpikir kenapa hal buruk terjadi dalam hidup gue, kenapa gue bisa kehabisan uang, kenapa gue tidak bisa meraih apa yang gue inginkan, kenapa gue harus ada di tempat seperti ini, kenapa gue merasa kelaparan, kenapa gue merasa sendiri, kenapa gue selalu sial, kenapa gue tidak bisa melakukan apa-apa, kenapa gue seperti itu dan itu. Gue selalu teringat kehidupan ini tidak selalu tentang gue. Ada Tuhan yang selalu perhatikan kehidupan gue dan gue tidak perlu meragukan kehebatan Dia dalam hal menjaga gue. Gue hanya perlu bersyukur untuk setiap perhatian Dia, baik itu menurut mata gue adalah kesedihan atau pun tawa. Dia tau yang terbaik untuk gue. In other side, masih ada banyak yang harus gue kerjakan untuk orang lain. Ada begitu banyak yang harus gue kejar di depan gue. Masih ada begitu banyak orang yang lebih butuh perhatian gue daripada rengekan dan keluhan-keluhan tidak penting dari gue. Ayo kita bangun dari tidur dan mimpi panjang kita. Di luar sana ... yup, di luar sana, ada ratusan juta orang menunggu hidup kita dan menunggu perhatian kita. Mereka menunggu hidup loe dan hidup gue.

"Tuhan memanggil kita dari gelap kepada terang. Tuhan memulihkan seluruh hidup kita. Dengan tanganNya sendiri Dia menambal seluruh lubang dalam hidup kita. Tuhan dengan sabar menantikan munculnya secercah 'kehidupan Yesus' dalam hidup kita. Semata-mata supaya kita bisa menjadi 'Penyelamat' bagi seluruh manusia di muka bumi ini."

Tuesday, October 21, 2008

When Adam Meets Eve ...

Hubungan antara pria dan wanita ikut terbawa rusak ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Beberapa ahli Alkitab mengatakan kalau perihal mengetahui baik dan buruk itu bukanlah sebuah kejahatan. Namun yang menjadi masalah adalah perbuatan Adam dan Hawa dilakukan berdasarkan HAWA NAFSU dan KEINGINAN untuk menjadi seperti Allah. (Kejadian 2 dan 3)

Anak-anak Tuhan sering terjatuh di dalam dosa seksual hanya karena tidak taat dengan Firman Tuhan dan pembimbing rohaninya. (Saya menganjurkan setiap orang memiliki pembimbing rohani, untuk mem-back up, menasehati, menegur dan menguatkan kita).

Selain ketidaktaatan, dosa lain yang ikut menurun dan merusak hubungan antara pria dan wanita adalah: Dosa suka menutup-nutupi kebenaran, suka melakukan sesuatu sembunyi-sembunyi, saling menyalahkan dan para pria memiliki kecenderungan memanfaatkan wanita sebagai objek seksualnya. Lihat Kejadian 3:20 – Adam ‘memanfaatkan’ Hawa, menyalahkan Hawa terlebih dahulu, baru kemudian memberinya nama. Adam memanfaatkan fisiknya dulu, baru kemudian ingin mengenal lebih jauh tentang Hawa.

Anak-anak Tuhan, khususnya pria, sering kali menerima dan menolak wanita hanya melihat fisiknya terlebih dahulu, bukan inner beauty-nya. Begitu juga para wanita, sering kali menjadikan pria dan harta benda itu sebagai 'Tuhan'nya (lihat kejadian ketika Hawa memberikan buah kepada Adam). Ada hamba-hamba Tuhan yang mengatakan kalau Hawa mengambil buah itu demi suaminya, Adam. Wanita akan melakukan apa saja bagi pria yang dicintainya. Terkadang perasaan seperti ini membuat wanita melupakan apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak. Pernah baca di berita ada seorang wanita yang sering dipukuli oleh suaminya dan dia tetap mengatakan kalau dia cinta suaminya? Atau pernah mendengar tentang seorang remaja yang memberikan keperawanannya bagi pria karena dijanjikan akan dinikahi?

Kidung Agung 8: 5-7 --- Cinta itu kuat seperti maut dan rasa cemburu itu kasar dan kejam (Amplified Bible Version). Pengkhotbah 3:1-11 --- Segala sesuatu indah pada waktunya.

Ada waktu untuk belajar, ada waktu berdoa untuk teman hidup, ada waktu pendekatan ke pasangan, ada waktu saling mengenal pasangan, dan ada waktu menikah. Jangan lewatkan prosedur-prosedur ini. Ada saatnya Tuhan menjawab kebutuhan kita akan teman hidup, seperti yang dilakukanNya kepada Adam. Untuk bisa ke jenjang hubungan seperti ini, kita harus mengalami dewasa dahulu secara jasmani dan rohani. Lihat Adam, Tuhan memberikan Adam pendamping saat dia menjadi pria dewasa dan pada saat dia sering berkomunikasi (bersekutu) dengan Tuhan. Menurut dunia kedokteran, usia yang baik di mana wanita sudah boleh melahirkan adalah di atas usia 20 tahun. Bila di bawah umur 20 tahun, saat dia menikah dan melahirkan nanti, akan terjadi banyak kesusahan badani (baca 1 Kor 7:28). Menurut ayat ini, artinya Adam dan Hawa memang sudah memiliki umur yang cukup untuk memiliki anak. Bukti Adam dan Hawa sudah dewasa adalah tidak lama setelah keluar dari Taman Eden, mereka memiliki keturunan.

Tujuan berpacaran adalah pernikahan. Dan tujuan pernikahan, selain memiliki keturunan, adalah menghindarkan manusia dari dosa seksual, dan menggenapi visi Tuhan yang lebih besar. Itu sebabnya ketika setelah menikah pasangan suami istri harusnya bisa melakukan lebih banyak lagi untuk Tuhan. Janji untuk memenuhi bumi dan menaklukannya adalah janji untuk Adam dan Hawa sebagai pasangan (baca Kej 1:26-28) Contoh: Kalau 1 orang hanya bisa mengangkat 1 kursi, dengan 2 orang harusnya bisa mengangkat 2 kursi dan 1 meja. Namun sering kali yang kita lihat adalah sebaliknya. Orang jaman sekarang berpacaran hanya karena saling suka, karena kesepian, karena malu dilihat jomblo oleh teman-temannya yang sudah berpasangan dan paling parah, karena ingin menyalurkan nafsunya. Begitu juga dengan yang sudah menikah, suami istri malah semakin jauh dari Tuhan, semakin sibuk dengan rumah tangga, bisnis, masa depan anak dan akhirnya meninggalkan Tuhan.

Maka dari itu kita harus mencari pasangan hidup berdasarkan Firman Tuhan, Mat 6: 33 --- Carilah dahulu Kerajaan Allah, semuanya akan ditambahkan kepadamu, termasuk pasangan hidup. Bisa saja kita dapatkan pasangan terbaik menurut mata kita (cantik/cakep, cinta Tuhan, kaya pula), namun kita akan menjalani hubungan itu seperti keluar dari api alias harus lebih kerja keras dan ekstra sabar. Survei mengatakan alasan orang bercerai yang paling adalah merasa sudah tidak cocok lagi. Ini bukan hanya terjadi pada orang yang tidak mengenal Tuhan, tapi juga terjadi terhadap anak-anak Tuhan.

Pesan untuk para pria: Carilah wanita yang bisa menolong hidupmu, bukan yang merongrong hidupmu … Jangan melihat fisik, karena pada saat kita sudah berumur 60 atau 70 tahun, keindahan fisik sudah tidak ada artinya lagi.

Pesan untuk para wanita: Carilah pria yang mengasihi dan melayani Tuhan, karena pria seperti yang kenal Tuhannya pasti akan menghargai hidupmu.

Pesan untuk pria dan wanita:
1. Wanita itu lemah di pendengaran, sedangkan pria itu lemah di semua inderanya.
2. Jangan mencari pasangan yang cocok untuk dirimu, tapi ubahlah dirimu sedemikian rupa sehingga menjadi cocok bagi pasanganmu (Rom 12:2).
3. Yang dipegang wanita dari pria adalah perkataannya. Itu sebabnya hai pria pakailah mulutmu sebaik mungkin. Jangan berjanji bila tidak bisa menepati, jangan mengatakan sesuatu kalau tidak bisa melakukannya. Karena wanita melihat hidupmu dari seberapa setia engkau memegang perkataanmu.

HEART WON'T FORGET!


Roma 10:9 - “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu ...”

Pasti sering dong baca ayat di atas. Yuk, kita bahas sedikit apa maksud dari ayat di atas. Firman Tuhan dalam Roma 10:9 bilang kalo kita, setiap anak Tuhan, percaya dengan hati. Itu artinya kita tidak percaya Tuhan dengan iman kita. Seringkali masalah ini tertukar dalam pengajaran kita. Padahal Firman Tuhan jelas mengatakan kita harus percaya dengan hati. Bingung, yah? Oke kita akan bahas sedikit tentang hati. Tahu nggak kalau kitab Amsal 4:23 mengatakan supaya kita menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan? Kenapa seperti itu? Iya, karena kalau hati kita rusak kita tidak mungkin bisa membeli yang baru. Segala sesuatu yang kita percaya tentang Tuhan dan all supranatural things berasal dari hati. Dan rasa percaya ke Tuhan yang tidak kelihatan itu harus muncul dari free will (kehendak dan keinginan) kita. Intinya, apa pun yang kita lakukan dalam hidup kita, either good things or bad things, tidak akan menambahkan rasa percaya kita akan sesuatu. Karena percaya itu adalah keputusan dan pemberian kita. Jadi bisa saja hati kita hari ini percaya akan sesuatu dan kemudian tahun depan kita tidak lagi percaya. Yup, rasa percaya itu bisa berubah.

Kalau hati kita rusak atau sedang bermasalah (entah karena mood, kecewa, trauma, kepahitan, dll.), itu akan membuat kita sulit untuk percaya. Susah percaya kepada orang dan apalagi kepada Tuhan yang tidak kelihatan. Nggak percaya? Coba deh pikir-pikir hidup kita. Kalau kita sedang tidak dalam keadaan sehat hatinya, kita akan sulit untuk percaya dengan apa pun, termasuk kepada Tuhan yang 2 atau 3 hari lalu baru kita sembah saat berdoa dan penyembahan. Itu kan yang dialami oleh Bangsa Israel. Mujizat apa sih yang tidak mereka alami? Semua mujizat terhebat yang pernah terjadi di muka bumi ini pernah mereka lihat, tapi kenapa mereka tidak juga percaya kepada Tuhan dan selalu saja meninggalkan Tuhan? Karena hati mereka rusak, mereka tidak percaya Tuhan ... simple as that. Mereka tidak percaya Tuhan dengan hati mereka. Mereka hanya percaya Tuhan sebatas pikiran mereka saja. Ada lagi, nih. Hati kita itu didesain sama Tuhan untuk tidak bisa lupa. Tidak seperti otak kita yang sering lupa. Sesuatu yang terjadi dalam hidup kita kalau kita hanya simpan di dalam otak kita, suatu hari bisa lupa. Tapi kalau kita simpan di dalam hati kita, pasti kita tidak akan lupa sampai kapan pun. 

Kita tes yah kebenarannya. Apakah kalian ingat materi khotbah di Southers sekitar 2 bulan lalu? Atau mungkin khotbah 4 bulan lalu? Ingat nggak? Pasti enggak deh. Jangan-jangan kalian juga sudah lupa pengkhotbah hari itu. Pertanyaan berikutnya. Masih ingat nggak waktu pertama kali putus dari pacar waktu jaman-jaman belum bertobat? Masih ingat waktu dipukul sama bokap? Masih ingat nggak waktu dikecewain atau dibohongin sama sahabat? Pasti masih ingat. Padahal kejadiannya mungkin sudah betahun-tahun lalu. Bahkan mungkin kalian masih ingat kata-kata apa saja yang diucapkan hari itu secara detail. Tahu nggak kenapa? Karena secara tidak sadar, kalian merenungkan kejadian itu selama beberapa hari saat itu terjadi (misalnya: kalau habis diputusin pacar, kan biasanya langsung masuk kamar, setel lagu sedih dan nangis. Berhari-hari mikirin kejadian itu terus) dan hal itu tersimpan rapi di dalam kotak hati kita. Kuncinya adalah DIRENUNGKAN siang dan malam (Kitab Yosua bilang dengan kata meditasikan siang dan malam). Ini bukti kecil kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan hati, tidak akan pernah bisa dilupakan. Karena memang hati kita tidak didesain untuk lupa. Sebaliknya, pikiran kita bisa lupa. Hebat, kan, hati kita. Kenapa tidak kita lakukan yang sama dengan Firman Tuhan (Yosua 1:8)?

Dan ini alasan kitab Amsal 4:23 meminta supaya kita jaga hati. Semakin banyak kejadian buruk yang kalian ingat dan kalian renungkan/pikirkan selalu dan kemudian kalian simpan di hati, akan membuat kalian semakin susah untuk percaya apa pun. Dan sebaliknya, kalau setiap hari kita merenungkan segala yang baik dan indah, pasti di hati kita akan ada sebuah kehidupan yang dikatakan 'seperti aliran sungai di mana kehidupan tidak akan pernah berhenti mengalir'. Hati kita adalah satu-satunya bagian dari diri kita yang diciptakan Tuhan untuk bisa percaya. Jangan rusak hati kita dengan hal-hal yang kotor dan tidak baik.

nb: Semakin hati kita percaya dan kaya Firman Tuhan, semakin mudah juga kita bisa menambahkan iman dalam hidup kita. Dan dengan iman itulah kita bisa memindahkan 'gunung-gunung' dan 'raksasa-raksasa' yang besar dalam hidup kita. (kita bahas iman dan hubungannya dengan hati di renungan berikutnya).

Tuesday, May 6, 2008

Above All ... (by Michael W. Smith)

Above all powers, above all kings
Above all nature, and all created things
Above all wisdom, and all the ways of man
You were here before the world began

Above all kingdoms, above all thrones
Above all wonders the world has ever known
Above all wealth, and treasures of the earth
There's no way to measure what You're worth

Chorus:
Crucified laid behind a stone
You lived to die, rejected and alone
Like a rose trampled on the ground
You took the fall and thought of me
Above all ...

Belakangan lagi suka lagu ini. Liriknya bagus. Very touchy. Gue jadi inget sama temen kantor gue yang nggak percaya Tuhan. Dia selalu bilang kalo Tuhan itu nggak ada. Dan Alkitab itu isinya nggak valid. Mmh, gue pun pernah berpikir begitu. Memang kadang susah mempercayai hal yang tidak kita lihat sendiri. Tapi seandainya sudah kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, apakah kita sudah pasti akan mempercayainya 100%? Gue rasa enggak juga, ya. Buat orang yang sudah menikah, pasti tahu banget sama perkara seperti ini. Waktu janji nikah diucapkan dan dijawab dengan 2 kata sederhana, "I do." Apakah sesederhana itu waktu menjalani pernikahan? Gue yakin sih, nggak. Banyak orang dengan mudah mengatakan sebuah komitmen, kemudian dengan mudahnya juga membatalkan. Tentu dengan alasan tidak cocok, tidak sejalan, tidak satu visi dan sejuta alasan klise lainnya. Bukti janji nikah di depan altar dan di hadapan semua itu pada akhirnya cuma jadi sebuah 2 kata sederhana yang tidak ada artinya. Bahkan mungkin sudah dilupakan. Rasa percaya ternyata nggak semudah itu, ya, bisa dijalani. Sekalipun sudah ada bukti ikatan di depan Tuhan dan di depan semua orang. Bahkan sang pasangan pun sudah membuktikan melalui hidupnya bahwa dia sangat mencintai orang yang dinikahinya. Bukankah itu sebabnya dia berada di depan altar dan bersama-sama mengucapkan janji nikah? Ironisnya, ternyata hal itu saja tidaklah cukup untuk membuat seseorang percaya. Bagaimana halnya dengan Tuhan yang tidak terlihat?


Bagaimana dengan perbuatan Tuhan yang tidak terlalu nyata? Seperti halnya teman saya, mungkin kalau saja Tuhan menampakkan diri di depan wajahnya pada saat dia sedang bekerja atau sedang di kamar tidur, dia akan percaya kepada Tuhan. Tapi kenapa Tuhan tidak melakukan itu? Apakah Dia ada? Kalau Dia ada kenapa Dia tidak melakukan sesuatu? Sedikit bukti supranatural yang nyata bisa membungkam keraguan banyak orang atau bahkan bisa membuat seluruh dunia ini percaya kepadaNya. Tapi pertanyaannya, apakah benar hal itu bisa benar-benar terjadi? Apakah dengan melihat laut merah terbelah untuk kedua kalinya, atau melihat tiang awan dan tiang api berjalan mengiringi, atau air menjadi anggur, bisa membuat kita percaya sepenuhnya akan keberadaan Tuhan? Dan kita akan menyembah Dia seumur hidup kita?

Pertanyaan ini mungkin menjadi pertanyaan dari sekian juta orang di muka bumi ini. Pertanyaan bagi orang-orang yang merindukan melihat atraksi supranatural atau bukti nyata dari keberadaan Tuhan. Tapi sebelum kita bisa menjawab pertanyaan itu, jujurlah sedikit kepada perasaan kita. Apakah kita benar-benar bisa mempercayai seseorang yang sudah lama kita kenal? Percaya dalam arti sekalipun kita melihat ada sesuatu yang jahat (at least terlihat jahat dari mata kita) dari dirinya, kita masih bisa melihat harapan darinya tentang kebaikan. Apakah kita benar-benar bisa percaya seperti percaya kepada anak yang berumur 1 tahun itu suatu hari akan menjadi seorang pria dewasa yang mampu berlari kesana kemari tanpa harus lagi dipengangi?

Gue nggak berusaha menjawab pertanyaan di atas. Tapi yang gue tahu pasti, terlepas dari percaya atau tidak dengan cerita Alkitab, ada seseorang yang mati tergantung di atas kayu salib 2000 tahun lalu. Dia bukan orang spesial secara tampilan, banyak orang meragukannya, bahkan dia dianggap menghujat nama Tuhan yang maha besar itu. Setiap kata yang diucapkannya selalu dianggap sebagai penghinaan bagi Tuhan dan mujizat yang dilakukannya hanya dianggap sebagai tipuan saja. Anggaplah hal di atas benar. Anggaplah memang orang ini adalah penipu luar biasa yang sedang melakukan aksinya di bumi ini. Anggaplah memang dia adalah penghujat nama Tuhan yang sangat menghina kekudusan Tuhan. Anggaplah sampe titik itu semuanya benar.


Tapi chapter berikutnya, dia melakukan sesuatu yang tidak dilakukan para penipu lainnya. Dia dengan sukarela naik ke atas kayu salib, dipukul, dihina, dicaci maki, diludahi, dimahkotai duri, dan dipaku tanpa sedikit pun melakukan pembalasan. Dia bahkan tidak mengatai atau mengutuk para pelaku yang berbuat kasar terhadapnya. Dia adalah penipu yang sangat berbeda dengan penipu lainnya. Dan yang paling mengesankan penipu ini mengatakan kalau dia melakukan itu semua untuk mereka yang telah berbuat kasar kepadanya dan untuk dunia ini. Dia ingin, dengan naifnya, menanggung setiap kesalahan semua orang yang hidup di muka bumi ini. Anggaplah apa yang dia katakan terlalu berlebihan. Terlalu naif dan terlalu mengada-ada. Tapi kenyataan yang tidak bisa kita abaikan, dia melakukan 'kebodohan' itu sedangkan kita hanya bisa berkoar-koar mengatakan ini dan itu tanpa berbuat sesuatu apa pun untuk orang lain.